Happy Holiday??
Sejujur-jujurnya, walaupun tidak percaya, tetapi saya tetep penasaran dengan rumor gempa 23 desember nanti. Sangat banyak alasan untuk tidak percaya, dan telah banyak saya ucapkan di tulisan2 sebelum ini. Tetapi, klaim bahwa sang predictor pernah “secara tepat“ memprediksi gempa Aceh 2004 dan Jogja 2006 membuat penasaran.
Di sisi lain, penasaran yang berikutnya adalah mengenai “jati diri“ sang predictor. Ilmuwan kah Dia?? Metode apa yang dipakainya??
Tapi yang jelas saya bisa memberikan fakta bahwa kecenderungan gempa di pantai barat Bengkulu menurun semenjak gempa besar 12 September 2007 lalu.
Mengapa menurun? Karena pada 12 September 2007, stress yang dilepaskan oleh segmen tersebut melalui gempa sudah sangat banyak. Ditambah lagi beberapa gempa susulan yang magnitudonya besar.
Secara logika, butuh waktu lama untuk terjadi gempa dengan skala besar di tempat yang sama. Tetapi itu bukanlah alasan untuk kita menjadi lengah dan tidak waspada.
Seismisitas di Pantai Barat Bengkulu dan sekitarnya (12 September 2007 – 18 Desember 2007)
September: terjadi 120 gempa dengan magnitudo 4 – 6, 13 gempa dengan magnitudo 6 – 7, dan 4 gempa dengan magnitudo diatas 7 yang dua diantaranya berkekuatan diatas 8 yang terjadi pada tanggal 12 dan 13 September 2007.
Oktober: terjadi 33 gempa dengan magnitudo 4 – 6 dan 3 gempa dengan magnitudo 6 – 7. Pada bulan-bulan ini, Bengkulu masih sangat panik jika mengalami goncangan. Orang yang berlarian keluar rumah secara tiba-tiba ketika terjadi gempa.
November: terjadi 26 gempa dengan magnitudo 4 – 6 dan 3 gempa dengan magnitudo 6 – 7. Keadaan Bengkulu tidak jauh berbeda. Goncangan yang masih sering terasa malah diperburuk dengan munculnya rumor 23 Desember.
Desember: signifikan, jumlah gempa sudah sangat jauh berkurang. Tetapi kepanikan tambah menjadi-jadi. 23 Desember menjadi hari yang penuh misteri bagi rakyat Bengkulu.
Keterangan:
GFZ-Potsdam = Pusat Penelitian Ilmu Kebumian Jerman.
Seismisitas = Keadaan/ aktivitas seismik (gempa).
